Rabu, 04 Maret 2020

Slilit sang kiai : Dogma, Paradoks, serta Ironi






Pertama kali saya membaca judulnya, saya sedikit terkejut karena judulnya terkesan seperti (maaf) pantat sang kiai. Namun kemudian, setelah saya membaca buku tersebut, ternyata saya salah baca. Dari kata slilit menjadi silit.

Bila anda sering membaca karya emha Ainun Najib, maka buku ini bisa saya katakan memiliku aura yang sama dengan buku-buku sebelumnya.

Buku ini dibagi menjadi  3 bagian yang berisikan bab-bab yang berbeda.


1. Islam itu islam

Dimana menjelaskan bahwa ironi antar islam sendiri anat begitu signifikan baik dari jaman maupun penduduknya.

2. Matahariku gerhana

Memaparkan keadaan Indonesia dari sisi yang berbeda. Dalam artian agak gelap. Menyentuh detail dari sisi cacatnya pemerintah, kehidupan masyarakat yang bertolakbelakang dengan norma. Serta perbandingan kita dengan orang di luar negeri sana. Betapa kita dengan mudah menelan mentah mentah budaya (include Teknologi dan hal lainnya).


3. Bumi tuhan

Seperti nama sub bab nya, setelah disuguhi dengan 2 bab yang terkesan "melenceng" dengan bab ini kita akan "diluruskan kembali." Dimana semua bab dalam sub bab ini membahas tentang hakikat manusia, kebaradaan tuhan, serta ke esaan nya yang jarang kita syukuri. Bercermin pula pada sifat manusia manusia jaman sekarang. Dimana pemimpin lebih mengatasnamakan jabatan ketimbang tanggung jawab.


Perlu saya tegaskan bahwa Slilit sang kiai merupakan kumpulan dari essai dan cerpen. Dimana per bab nya tidak saling berhubungan.

Dan bilamana anda pertama kali membaca buku emha Ainun Najib, maka mungkin anda perlu membiasakan diri dengan gaya bahasa serta isi yang terkandung di dalamnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar