Selasa, 10 Desember 2019

********* adalah bibit korupsi portabel


********* adalah bibit korupsi portabel


Hari ini(11 Desember 2019) Universitas Trunojoyo Madura mengadakan pendanaan Bidikmisi untuk mahasiswa 2019

Well, secara garis besar saya cukup setuju dengan ini. Namun pada kenyataannya tidak begitu.

Mengingat bahwa hampir seluruh mahasiswa yang "memiliki title" Bidikmisi nyatanya seorang yang berkecukupan.

Sedang, tak sedikit pula mereka yang berasal dari kalangan kurang mampu, malah mendapat UKT maksimal yang jelas amat membebani.

Yang ingin saya katakan Disni adalah, terdapat sistem yang salah dalam pemerataan serta penyaringan Bidikmisi. Dimana mengapa "yang kaya makin kaya" sedang "yang miskin makin miskin".

Secara garis besar, penerima Bidikmisi mendapatkan keuntungan sebagai berikut :

1. Mendapatkan uang saku sebesar Rp.  700.000 per bulan
2. Gratis UKT
3. Serta asuransi kecil lainnya


Saya tidak pernah mempermasalahkan terkait dengan adanya Bidikmisi. Saya cukup lapang dada karena saya merupakan "satu dari ke sekian" yang tidak lolos dalam seleksi Bidikmisi.

Namun saya berubah pikiran setelah melihat beberapa mahasiswa Bidikmisi Yang saya rasa telah melakukan hal yang tidak sepantasnya mereka lakukan.

Mereka menggunakan uang Bidikmisi untuk keperluan pirbadi serta tambahan uang saku. Tanpa pikir panjang mereka menghabiskan "APBN" milik negara.

Di sisi lain, saya berasal dari kalangan kurang mampu namun tetap bersyukur. Sayangnya, akibat sistem yang kacau ini, terpaksa saya harus menanggung ampas dari kecacatan sistem tersebut.

Saya mendapatkan UKT maksimal yang berarti pihak universitas menganggap saya bukan lagi "menengah ke atas" namun sudah berpikir saya dari kalangan " atas." Saya mendapat UKT sebesar Rp.3000.000

Terkadang saya juga berpikir. Apakah UKT yang saya, setorkan tiap 6 bulan sekali nantinya akan dibagikan kepada mahasiswa Bidikmisi?

Sekalipun (dana Bidikmisi) bukan dari uang saya, namun saya masih amat menyayangkan terkait dengan sikap mereka yang berasa amat "menikmati" uang negara.

Rabu, 27 November 2019


Pembaca (Novel) terlahir menjadi seorang penghujat

Sebelumnya Saya minta maaf kalau tulisan ini menyingung banyak pihak. Namun Saya tidak peduli. Saya hanya ingin menyadarkan kepada dunia luar bahwa adaptasi novel tidak semudah itu

Akhir akhir ini salah satu novel best seller nasional (juga international) Karya salah satu penulis populer dari Indonesia kembali di adaptasi menjadi film.

Sudah jelas menjadi ancamam yang mencekam Karena menuai banyak kontroversi antara novel dan adaptasi

Seakan diciptakannya film merujuk kepada penjualan bukan adapatsi dari film itu sendiri

Padahal novelis bukan ingin meraup untung dari penjualan, melainkan mengimplemetasi terhadap gambaran pada pembaca tentang imajinasi

Ditilik dari luar negeri novelis luar biasa Rick Riordan menolak sendiri kelanjutan adaptasi novelnya, Percy Jackson And the Titans curse, tidak akan di filmkan kecuali benar benar mirip dengan aslinya


Karena dia tidak ingin seperti J.K. Rowling yang sudah menghilangkan estetika novel sehingga dia lebih memilih meraup keuntungan

So?
Tujuan awal film adaptasi novel bukan untuk meraup untung

Tapi untuk implementation of mind

Selasa, 26 November 2019

The old man and the sea

Ernest Hemingway kembali menuai dalam bukunya yang berjudul pria tua dan laut. Dimana diceritakan seorang pelaut (nelayan) tua yang berusaha mencari impiannya dengan cara memancing ikan terbesar yang konon amat jarang ditemui. Pun juga tidak mudah menangkap nya.


Well, overall, hampir keseluruhan buku ini menceritakan tentang perjalanan kakek ini dalam pencarian ikan besar tersebut. Terdapat banyak pengajaran kehidupan yang dapat diterapkan semisal pada saat kakek tua ini menangkap seekor ikan pasangan (betina dan pejantan), dimana pada saat itu bilamana ada salah satu dari pasangan tersebut yang tertangkap, maka ikan tersebut akan terus mengikuti nya. Bilamana diibaratkan maka seperti sepasang kekasih yang setia.

Dan banyak pula cerita sejenisnya yang mengangkat tentang kehidupan manusia.

Secara keseluruhan, Ernest Hemingway kali ini mengangkat cerita "agak" berat namun masih bisa dipahami karena singkat (berbeda dengan karya lainnya yang mengungdung tema yang berat serta halaman yang tebal).

Meninjau dari segi layout, penerbit sepertinya telah berusaha agar penerjemahan tidak terganggu dan tetap mengangkat keseluruhan cerita tanpa merusak alur yang ada.

Sekian.

Minggu, 01 September 2019

Semakin buruk anjing yang diucapkan. Semakin besar rindu yang ia pendam



31 Agustus

Malam itu, ber alaskan tikar dan beratap langit, aku melihat sendiri seluruh kejadian. Ditambah dengan fakta bahwa ia juga mengakui nya.

Al kisah, ada dua orang pemuda dan pemudi yang masih SMA. Masih dini untuk mengenal kata cinta. Namun di dunia penuh dengan membaranya masa muda, mereka mengganggap sebuah cinta adalah hal yang mesti dimiliki.

Singkat cerita, si pemudi, memiliki sifat yang bebas. Merasa tidak ingin terkekang. Pun merasa amat suka bergaul tak kenal waktu. Tak jarang dia pulang dalam keadaan larut. Tak sedikit pula tongkrongan yang ia datangi. Para teman Gadis seusianya berkata bahwa ia bukanlah hal yang wajar. Namun si pemudi tetap tidak peduli

Si pemuda sendiri, dibandingkan memiliki sikap keras kepala. Lebih bisa di sebut bahwa ia teguh pendirian. Cukup cuek dengan keadaan sekitar, serta memiliki paras yang lumayan tampan.

Si pemuda berkata pada pemudi saat janji (yang mereka bilang suci) bahwa dia merupakan seorang yang cukup posesif. (Suatu hal yang bertolak belakang dengan kelakuan pemudi). Namun demikian, hubungan yang romantis itu pun berjalan.

Aku mengambil gelas air di dekat ku. "Kau butuh minum?"

Dia menjawab sambil sesekali mengatur nafasnya. Bercerita (terutama tentang sesuatu yang membuat kita sedih) membuat kita lelah.

Setelah beberapa tenggukan, dia melanjutkan ceritanya.

Seperti kebanyakan romansa SMA kebanyakan. Tak banyak yang bisa diberikan pada pasangan SMA.

Singkat certia, pemudi yang bebas tersebut secara tidak sengaja telah berbuat kesalahan.
Seorang pria lain mengajaknya berjalan jalan dan ia menerima nya.

Pemuda pasangan pemudi merasa tersinggung dan memutuskan untuk meninggalkan nya.

Namun kemudian...

Aku mengambil tisu.
"Kau tidak apa-apa?"

"Iya, aku baik" katanya sambil mengusap matanya.

Setelah beberapa saat, dia mengubah topik pembicaraan.

"Dia akan kesini"

Aku yang setengah sadar langsung terkejut.

"Apakah kehadiran ku disini akan menggangu kalian?"
Aku memastikan karena mungkin akan sangat canggung nantinya.

Tidak lama kemudian, orang itu memang datang.

"Apa yang kau lakukan? Kenapa menemui ku? Ada urusan apa? Bukankah hubungan kita sudah selesai?"
Tanpa basa-basi gadis di depanku membuka pembicaraan.

"Ayolah...aku hanya ingin bertemu dengan mu. Apa aku salah?" Pria yang baru datang ini merasa seakan amat dekat dengannya.

"Aku hanya rindu padamu. Apa itu salah?" Dia berkata dengan memohon

"Lalu kenapa kau menemuiku? Yang rindu itu dirimu. Bukan aku". Si gadis menjawab dengan amat ketus.

"Lagi pula" dengan suara yang bergetar, dia memandang ku. "Aku sudah punya pacar".

Si pria menatap ku dengan pandangan yang seakan berkata 'yah...aku juga sudah punya'

Baiklah, baiklah, aku mengalah. Aku membiarkan mereka berdua menikmati waktu. Mengingat masa masa meraka dan bercerita banyak hal. Itu membuat kehadiran ku tampak tak dianggap. Tapi tidak masalah.

____________

"Tolong...jangan lihat aku" dia berkata sesegukan. Menempel pada punggung ku.

Aku berkata. "Luapkan lah. Tidak baik memendam nya seperti itu."

Malam yang panjang. Dia melewati cobaan yang berat.

Antara harga diri dengan kebebasan.

Sepanjang dia bercengkrama dengan pria (yang dicintainya) tadi, dia nampak cuek dan menganggap nya tidak peduli. Namun dalam pandangan mata nya aku tahu kalau dia sebenarnya berharap matahari tidak akan muncul agar malam ini abadi.

"Hei..."
kataku menembus suara angin kendaraan yang lewat di sekitar ku.

Dia hanya sedikit mengangkat wajahnya.

"Apa kau masih mencintainya?"

Kembali dia terbenam di punggung ku.

Kali ini lebih keras

Kamis, 29 Agustus 2019





CATATAN PERJALANAN
Oleh
Cahya Firdaus

Sabtu, 24 agustus 2019
10.24
Hari yang cerah, namun tidak dengan suasana ini. Kami ber – sepuluh cukup bosan menuggu rekan-rekan kami yang tak kunjung sampai. Waktu yang kami sepakati sebelumnya adalah pukul 10.00, namun waktu terus berjalan dan jumlah kami belum lengkap. Keterlambatan ini disebabkan karena beberapa dari kami bertabrakan dengan acara lain. Entahlah, sekalipun ini cukup normal, tapi tetap saja menyebalkan.
13.10
Kami telah berpindah tempat ke perpustakaan. Setelah melakukan peribadatan dan melakukan persiapan pada ransel-ransel kami, akhirnya jumlah kami lengkap dan kami memutuskan untuk  melakukan pendalaman materi  review sebelumnya. Kami berdiskusi penuh selama 3 jam lebih mulai dari : Kebebasan berfikir, Bela negara,Analisis soisal, dan lain-lain. Sempat terjadi cek-cok singkat di perdebatan kami. Namun pada akhirnya kami mencapai tujuan yang sama dan bersepakat atas satu suara.
16.39
Matahari telah condong ke barat namun kami tetap saja belum berangkat. Kami masih bertanya dalam hati ‘sebenarnya apa yang mereka rencankan?’ ‘Apakah ini hanya wacana semata?’ atu ‘mungkin travel sedang terkandala’ dan berbagai alasan lainnya. Namun kami hanya bisa memendamnya dan mencoba mengikuti alur yang ada. Lagipula, akan timbul kesan negatif bilamana kami menyinggung perasaan para kakak kami.
Namun tidak masalah,rasa penasaran kami terjawab saat pada akhirnya pengiiringan diri dilakukan. Kami semua Nampak terkejut karena para kakak mengosngkan isi tas kami. Terlebih lagi, kami hanya di perbolehkan memakai satu baju saja. Diklat apa yang akan kami lakukan? Piirku dalam hari.tidak sampai disitu saja,kami hanya dibekali lima puluh ribu rupiah untuk perorangan. Dan lagi kami harus menempuh perjalanan sejauh 3 kilometer dengan jalan kaki.



18.12
Matahari telah terbenam sepenuhnya. Dan disinilah kami, di atas laut jawa. Setelah melakukan perdebatan alot antara pihak nego kami dengan pihak kapal pelabuhan untuk mendapat tiket dengan murah,akhirnya kami mendapatkannya. Di atas kapal, kami masih bertanya – Tanya. Kemanakah gerangan kita akan pergi nantinya? Apakah sebuah villa di daerah pegunungan? Ataukah ke sebuah pantai di daerah pesisir? Entahlah. Kami hanya bias menurut saja.
Kami telah mendarat dengan selamat dan dikumpulkan. Pembentukan kelompok telah dimulai dan Roro merupakan partner pertamaku. Kami diajarkan bagaimana cara untuk ber survive ria. Menaiki angkot yang kapasitas maximal hanya 12 orang telah penuh sesak oleh kami yang berjumlah 15 orang lebih. Perjalanan kami menuju daerah tunjungan di penuhi rasa tegang. Apa yang akan kami hadapi nanti.
20.37
Kami telah sampai di kawasan elite tersebut. Pertanyaan semakin berkecamuk. Partnerku juga Nampak sedikit resah. Namun kami berusaha saling menguatkan dan tidak patah semangat. Sesaat sebelum kami masuk, kakak pembibing member kami titah yang membuat kami semua sempat terkejut.
“wawancarai 3 orang pengunjung, 3 penjaga kios, juga satpam dan cleaning service.”
Sebelum kami benar benar berbalik, kakak menambahkan
“dan jangan bilang kalau ini adalah diklat LPM UTM”
Cukup singkat  namun langsung membuat kami tersentak. Belum sempat aku berpikir lebih jauh,aku langsung menarik Roro dan bergerak lebih cepat dari yang lain. Waktu kami tidak banyak. Kami mulai kehabisan waktu. Entah apa yang menunggu kami di dalam sana.

21.44
Kami bersandar di emperan toko. Bersama para remaja dan anak muda yang lainnya. Sungguh kami lelah. Kami bahkan tidak sempat untuk melihat diri masing – masing. Dasar mall kaum hedonisme. Hampir seluruh narasumber melihat diri kami sebagai makhluk hina dan tidak berkelas. Beberapa bahkan dengan tegas menolak kehadiran kami. Astaga. Ini lebih rumit daripada yang aku bayngkan.
Seperti misal tadi, aku dan roro sempat mewawancari seorang penjaga kios kecil . mereka yang awalnya sangat meng – anggur tiba tiba menjadi sok sibuk dan mengabaikan kami. Beberapa orang berhasil kami kelabui dengan menyamar sebagai siswa SMAN 12 Surabaya. Dan lainnya mengalir cukup sulit.


22.12
“wawancarai 3 orang pengunjung, 3 komunitas, dan 3 pedagang.”
Kurang lebih itulah yang kakak ucapkan saat kami tiba di taman bungkul.kami berpindah tempat, kelompok juga diacak kembali. Kami benar benar harus ber adapatasi dengan cepat dengan suasana yang baru. Ada banyak orang disini dan kami harus mewawancarai mereka.
“dan jangan bilang kalau ini adalah diklat LPM UTM”. Tak lupa petuah ini diucapkan menemani perpencaran kami semua. Entahlah, dengan partner yang baru, aku merasa sedikit banyak bias mengendalikan emosi dan mengedepankan tugas. Tapi memang tidak sebaik partner pertama.
Kami mulai mewawancarai  satu per satu pengunjung taman. Disini amat berbeda dengan Mall sialan itu. Disini orang orang lebih terbuka dan cukup senang melayani kami sebagai murid SMAN 12 surabaya. Aku pribadi dalam wawancara ini mencoba menggali lebih jauh sifat mereka masing masing. Tidak seperti di Tunjungan yang terpatok pada 5W + 1H. disini kami berdua mencoba mengorek opini mereka tentang isu yang tengah trending dikalangan surbaya itu sendiri : sebuah penistaan oleh sekelompok mahasiswa negeri di Surabaya.
Beberapa komunitas tampak terlalu sibuk dan membuat kami sempat ragu. Kami juga mendapat cerita menarik dari beberapa pedagang di sekitar Taman bungkul. Mereka telah cukup lama bekerja di sini. Namun mereka masih belum mendapat kejelasan dari pemerintah tentang “kesejahteraan” yang dijanjikan saat mereka memilih hak suara yang lalu.
23.34
Jam telah larut dan kami kembali berkumpul. Rasa lelah, senang , gugup memadati kami, kami mendapat pendalaman materi kembali. Kami juga sempat membahas hal-hal menarik dari wawancara barusan. Beberapa memaparkan fakta yang berbeda namun tetap  merujuk pada satu kesatuan. Juga hal hal lain lainnya. Sampai pada akhirnya malam telah larut dan para petugas mulai melakukan sterilisasi area. Terpaksa kami melanjutkan perjalanan.
Kami kembali berjalan menyusuri trotoar area bungkul dan mendapati banyak hal yang kami pelajari malam ini.  Kami sempat berpikir bahwa kami akan ber istirahat di sebuah tempat atau mungkin ber mukim di masjid. Nyatanya tidak. Perjalanan kami yang sesungguhnya baru di mulai.

Minggu, 25 agustus 2019

01.37
Malam telah merangkak dan para penghuni lebih memilih berselimut di rumah masing masing. Namun kami masih ber-keliaran layaknya sekelompok remaja badung.kami sempat ber istirahat di jalan wonokromo untuk menjalani breefing. Malam  semakin mencekam dan kami merasa hawa semakin dingin. Beberapa dari kami sempat tertidur sebentar dan yang lainnya meluruskan kaki.
Kami kembali dibagi menjadi kelompok yang baru. Dengan sedikit arahan,kali ini kami tidak di haruskan untuk wawancara. Namun kami hanya melihat keadaan,(atau begituah seharusnya).
“yang laki-laki harus dijaga perepuamnya. Yang perempuan turuti apa kata lelaki.”
Pesan terakhir oleh ketua organisasi kami.
Baiklah, ini mudah. pikirku dalam hati. Aku pernah melewati hal – hal seperti ini di daerah ku. Ayolah,aku bisa.
Kami  berjalanan secara perlahan melewati besi-besi rel tua di gelap malam. Partner ku mencoba untuk tegar dan aku berusaha meyemangatinya (dengan cara  meyakinnya bahwa aku pernah melewati tempat semacam ini. Dan ternyata memang seperti dugaanku. Tempat ini memang persis seperti yang ada di daerahku. Tempat dimana para wanita menjajajkan dirinya di atas rel menggunakan pakaian minimalis, juga para pemuda yang berusaha tertutup dan para pejuang kasino lokal yang tengah bertaruh dadu dan menghamburkan uang.
Kami berjalan menyusuri rel ber Alaskan sandal tipis. Beberapa kali ada sekolompok pemuda yang (sempat) tertarik dengan partnerku. Dengan cepat aku meyadari kejanggalan dan menyuruhnya agar berpindah ke sampingku. Kami sempat duduk di rel dan berhadapan dengan salah satu wanita penghibur. Ia melihat kami seperti makhluk dari planet lain.
Selama beberapa saat kami sempat kembali menyisir jalan dengan cara teraman yang bisa kami lakukan. Selang beberapa menit kemudian,setelah kami dirasa cukup untuk mendalami kehidupan mereka, barulah kami menghentikan pengmatan dan kembali pada kelompok. Disini kami kembali di beri pengarahan materi dan pembahasan mengenai survey lapangan yang barusan kami lakukan.

05.26
Kami melanjutkan perjalanan ke pasar waru dimana kami bisa melakukan peribadatan dan istirahat sejanak. Namun nyatnya kami menghadapi masalah yang lebih pelik. Lagi – lagi kami dibagi per kelompok dan mulai menghampiri 3 penjual dan 3 pembeli. Berbeda dengan suasana sebelumnya, dimana di tunjungan merupakan tempat bersantai dan taman bungkul tempat untuk bercengkrama ringan. Disni hampir setiap orang memiliki kesibukan dan amat jarang bisa diajak bercengkrama. Maka dari itu, kami mesti pintar – pintar mencari narasumber yang tepat.
Sampai pada akhirnya kami telah berkumpul kembali dan melanjutkan perjalnan
08.17
Suasana knalpot asap dan solar bertalu talu menyeruak di sekitar. Bis – bis ber talu – talu keluar masuk. Para penjajah tiket juga berkeliaran. Kepadatan semacam ini cukup wajar di kalangan terminal Bungrasih Purabaya. Semua bercampur menjadi satu. Kami berjalan menyusuri satu bis ke  bis lainnya dan mendapati kami sampai di ujung terminal.
Lagi – lagi kami dibentuk kelompok dan seperti yang sudah aku perkirakan, kami kembali ber  - wawancara dengan penumpang,sopir,kernet, dan pedagang asongan.  Aku dan partnerku (yang telah menghadapi situasi semacam ini) sedkit lincah karena terbiasa.
14.32
Perjalanan kami telah berakhir. Dan entah kenapa kami tertunduk lesu. Berbagai perasaan tercampur aduk menjadi satu. Antara lelah, kecewa, dan lain – lain.
Hari itu, kami mengetahui bahwa diklat kami telah GAGAL

Selasa, 27 Agustus 2019

Cahaya perjalanan


Maslahat solidaritas

Perkamen lusuh yang telah usang
Berjuang melawan waktu
Menembus asa dengan segala hal yang menarik para pemuja cahaya
Menampik di kadar maksimal sebuah kepercayaan
Serta mambungkam segala keterpurukan yang ada