Minggu, 01 September 2019

Semakin buruk anjing yang diucapkan. Semakin besar rindu yang ia pendam



31 Agustus

Malam itu, ber alaskan tikar dan beratap langit, aku melihat sendiri seluruh kejadian. Ditambah dengan fakta bahwa ia juga mengakui nya.

Al kisah, ada dua orang pemuda dan pemudi yang masih SMA. Masih dini untuk mengenal kata cinta. Namun di dunia penuh dengan membaranya masa muda, mereka mengganggap sebuah cinta adalah hal yang mesti dimiliki.

Singkat cerita, si pemudi, memiliki sifat yang bebas. Merasa tidak ingin terkekang. Pun merasa amat suka bergaul tak kenal waktu. Tak jarang dia pulang dalam keadaan larut. Tak sedikit pula tongkrongan yang ia datangi. Para teman Gadis seusianya berkata bahwa ia bukanlah hal yang wajar. Namun si pemudi tetap tidak peduli

Si pemuda sendiri, dibandingkan memiliki sikap keras kepala. Lebih bisa di sebut bahwa ia teguh pendirian. Cukup cuek dengan keadaan sekitar, serta memiliki paras yang lumayan tampan.

Si pemuda berkata pada pemudi saat janji (yang mereka bilang suci) bahwa dia merupakan seorang yang cukup posesif. (Suatu hal yang bertolak belakang dengan kelakuan pemudi). Namun demikian, hubungan yang romantis itu pun berjalan.

Aku mengambil gelas air di dekat ku. "Kau butuh minum?"

Dia menjawab sambil sesekali mengatur nafasnya. Bercerita (terutama tentang sesuatu yang membuat kita sedih) membuat kita lelah.

Setelah beberapa tenggukan, dia melanjutkan ceritanya.

Seperti kebanyakan romansa SMA kebanyakan. Tak banyak yang bisa diberikan pada pasangan SMA.

Singkat certia, pemudi yang bebas tersebut secara tidak sengaja telah berbuat kesalahan.
Seorang pria lain mengajaknya berjalan jalan dan ia menerima nya.

Pemuda pasangan pemudi merasa tersinggung dan memutuskan untuk meninggalkan nya.

Namun kemudian...

Aku mengambil tisu.
"Kau tidak apa-apa?"

"Iya, aku baik" katanya sambil mengusap matanya.

Setelah beberapa saat, dia mengubah topik pembicaraan.

"Dia akan kesini"

Aku yang setengah sadar langsung terkejut.

"Apakah kehadiran ku disini akan menggangu kalian?"
Aku memastikan karena mungkin akan sangat canggung nantinya.

Tidak lama kemudian, orang itu memang datang.

"Apa yang kau lakukan? Kenapa menemui ku? Ada urusan apa? Bukankah hubungan kita sudah selesai?"
Tanpa basa-basi gadis di depanku membuka pembicaraan.

"Ayolah...aku hanya ingin bertemu dengan mu. Apa aku salah?" Pria yang baru datang ini merasa seakan amat dekat dengannya.

"Aku hanya rindu padamu. Apa itu salah?" Dia berkata dengan memohon

"Lalu kenapa kau menemuiku? Yang rindu itu dirimu. Bukan aku". Si gadis menjawab dengan amat ketus.

"Lagi pula" dengan suara yang bergetar, dia memandang ku. "Aku sudah punya pacar".

Si pria menatap ku dengan pandangan yang seakan berkata 'yah...aku juga sudah punya'

Baiklah, baiklah, aku mengalah. Aku membiarkan mereka berdua menikmati waktu. Mengingat masa masa meraka dan bercerita banyak hal. Itu membuat kehadiran ku tampak tak dianggap. Tapi tidak masalah.

____________

"Tolong...jangan lihat aku" dia berkata sesegukan. Menempel pada punggung ku.

Aku berkata. "Luapkan lah. Tidak baik memendam nya seperti itu."

Malam yang panjang. Dia melewati cobaan yang berat.

Antara harga diri dengan kebebasan.

Sepanjang dia bercengkrama dengan pria (yang dicintainya) tadi, dia nampak cuek dan menganggap nya tidak peduli. Namun dalam pandangan mata nya aku tahu kalau dia sebenarnya berharap matahari tidak akan muncul agar malam ini abadi.

"Hei..."
kataku menembus suara angin kendaraan yang lewat di sekitar ku.

Dia hanya sedikit mengangkat wajahnya.

"Apa kau masih mencintainya?"

Kembali dia terbenam di punggung ku.

Kali ini lebih keras

5 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. bagus....tapi yang konsisten dalam menggunakan sudut pandang orang ketiga atau pertama. janagan lupa mampir ke suicideonline97.blogspot.com

    BalasHapus
  3. Yg ajeg bicarakan tokoh. Kadang sy bingung, di beberapa bagian, km sedang bicarakan pemuda/pemudinya. Lanjoot

    BalasHapus